SMK AL-ISLAM SURAKARTA

SMK AL-ISLAM SURAKARTA

Selasa, 11 Februari 2014

SEJARAH PERKEMBANGAN ISLAM DI TUNISIA


Pertengahan abad ke-7 Uqbah bin Nafi Radhiallahu Anhu, seorang sahabat Rasulullah SAW, masuk Tunisia bersama pasukannya. Tahun 647 M pasukan Uqbah Radhiallahu Anhu. berhasil menaklukkan Sbeitla (Sufetula) yang menandai bermulanya era Arab-Islam di Tunisia. 13 tahun kemudian, yaitu pada tahun 670 M (50 H ) Uqbah Radhiallahu Anhu. berhasil menaklukkan kota Kairouan dan kemudian menjadikannya sebagai ibu­kota pemerintahan dan pusat penyebaran Islam di wilayah Afrika Utara.

Pada 698 M, pasukan Islam di bawah pimpinan Hassan bin an-Nu’man dan Musa bin Nashr berhasil menaklukkan Carthage. Islam kemudian berkembang pesat di Tunisia. Bahkan pada tahun 711 M –masa keemasan Dinasti Umawiyah– agama Islam telah tersebar ke daratan Eropa dengan berhasil menaklukkan Andalusia di Spanyol dan kawasan Iberia di sekitarnya.

Pada tahun 748 M, Dinasti Umawiyah digantikan oleh Dinasti Abbasiah. Peristiwa ini menyebabkan Tunisia terlepas dari pengawasan pusat kekhalifahan, namun kemu­dian dapat dikuasai lagi oleh Dinasti Abbasiah pada tahun 767 M. Pada tahun 800 M, Ibrahim Ibn Aghlab ditunjuk sebagai Gubernur Afrika Utara yang berkedudukan di Kairouan. Pada masa ini, Mesjid Agung Ezzitouna didirikan di kotaTunis.

Masa-masa selanjutnya adalah era kejayaan peradaban Islam di Tunisia dan kawasan Arab Maghribi. Dinasti Aghlabiah (767-910), Fatimiah (910-973), Ziridiah (973-1062), Almohad (1159-1228) dan Hafsiah (1230-1574) silih berganti memegang tampuk kekuasaan di Tunisia, hingga masuknya Tunisia dalam wilayah Khilafah Utsmaniah (1574-1591). Di masa Khilafah Utsmaniah ini, Tunisia menjadi wilayah otonom di bawah pemerintahan Dinasti Dey (1591-1659), Mouradi (1659-1705) dan Huseini (1705 –1957).

Karena itulah, Kairouan dan Mahdia kini menjadi kota tujuan wisata sejarah Islam terpenting di Tunisia, selain Masjid Ezzitouna di kota Tunis. Di Kairouan dan Mahdia, kita bisa mengunjungi masjid-masjid tua, benteng, makam para ulama serta istana sisa peninggalan peradaban Islam.

SEJARAH PERKEMBANGAN ISLAM DI AL JAZAIR


Penduduk asli Berber di Aljazair telah di bawah kekuasaan asing selama lebih dari 3000 tahun terakhir. Orang-orang Fenisia (1000 SM) dan Republik Romawi (200 SM) ialah yang terpenting, sampai datangnya orang-orang Arab di abad ke-8. Bagaimanapun, aliran penaklukan tak seluruhnya satu arah; di masa pertengahan Fatimiyah Berber, berasal dari Aljazair, mengambil alih Mesir, walaupun segera setelah itu meninggalkan Afrika Utara.
        Aljazair masuk wilayah
Turki Utsmani oleh Khair ad-Din dan saudaranya Aruj yang membuat pesisirnya basis corsair; [privateering] mereka yang dicapai puncaknya di Aljir pada 1600an, setelah pusat kegiatan dipindahkan ke Tripoli di Libya. Dengan dalih mengabaikan konsul-konsul mereka, Perancis menyerang Aljir pada 1830; bagaimanapun, perlawanan hebat dari sejumlah tokoh seperti Emir Abdelkader yang dibuat untuk penaklukan pelan-pelan di Aljazair, tak secara teknis selesai sampai awal 1900an saat Tuareg terakhir ditaklukkan.
       Sementara itu, bagaimanapun, Perancis telah membuat Aljazair bagian integral metropolitannya, status status yang akan mengakhiri jatuhnya
Republik Keempat. Puluhan ribu pemukim dari Perancis, Italia, Spanyol, dan Malta pindah menyeberangi Laut Tengah untuk bertani di Algerian daratan pesisir dan menduduki bagian yang paling berharga dari kota-kota Aljazair, mendapatkan keuntungan dari penyitaan tanah bersama yang dipunyai pemerintah Perancis. Orang-orang Eropa beranak pinak di Aljazair (yang disebut pied-noir), seperti penduduk asli Yahudi Aljazair, merupakan warga negara Perancis penuh yang sedang mulai dari akhir abad ke-19; dengan memperlihatkan perbedaan menyolok, kebanyakan Muslim Aljazair tetap di luar hukum Perancis, dan tak memiliki kewarganegaraan Perancis ataupun hak suara. Susunan sosial Aljazair diperlunak untuk maksud yang berubah selama masa ini: tingkat melek huruf jatuh secara hebat, sedangkan penyerobotan tanah menumbangkan kebanyakan penduduk.
       Pada
1954, Front Pembebasan Nasional (FLN) melancarkan perang gerilya; setelah hampir 1 dekade perang di kota dan desa, mereka berhasil memaksa Perancis keluar pada 1962. Pada 25 September 1962, Ferhat Abbas terpilih menjadi presiden dari pemerintahan provinsional, dengan Ahmed Ben Bella sebagai perdana menteri. Kebanyakan 1.025.000 pied-noir, seperti 91.000 harki (Muslimin Aljazair pro-Perancis), atau hampir 10% penduduk Aljazair pada 1962, pergi dari Aljazair ke Perancis hanya sekian bulan dalam pertengahan tahun itu.
       Presiden pertama Aljazair, pemimpin FLN
Ahmed Ben Bella, didepak oleh mantan sekutunya dan juga PM, Houari Boumédiènne pada 1965. Negara itu kemudian menikmati hampir 25 tahun yang relatif stabil 1 partai sosialis milik Boumedienne dan para penggantinya.
       Pada
1990-an, Aljazair dilanda perang saudara penuh kekerasan dan berkepanjangan setelah militer menghalangi ParPol Islam, Front Keselamatan Islam mengambil kekuasaan menyusul pemilihan multipartai pertama di negeri itu. Lebih dari 100.000 orang terbunuh, kebayakan dalam pembantaian penduduk sipil yang tak beralasan, oleh kelompok gerilyawan seperti Kelompok Islam Bersenjata.
       Pada bulan
Desember 1990, Majelis Rakyat Nasional mengesahkan aturan penggunaan bahasa Arab sebagai bahasa resmi Aljazair dan melarang perusahaan-perusahaan swasta dan partai politik menggunakan bahasa Perancis dan Berber. Undang-undang baru ini dianggap sebagai sikap tidak toleran pemerintah terhadap sejumlah masyarakat yang berlatar pendidikan Barat serta masyarakat Berber. Hal ini kemudian menyebabkan sekitar 500.000 orang turun ke jalan untuk memprotes diskriminasi agama dan politik.

SEJARAH PERKEMBANGAN ISLAM DI MAROKO



Islam pertama kali dibawa ke Maroko pada tahun 680M oleh invasi Arab dibawah Uqba ibn Nafi, seorang jenderal yang melayani Damaskus di bawah Bani Umayyah. Tetapi catatan lain menyebutkan bahwa agama Islam kali pertama dibawa ke Maroko oleh orang Arab yang menyerbu wilayah itu pada tahun 683. Penaklukan wilayah Afrika Utara ini memakan waktu 53 tahun. Tariq bin Ziyad yang diangkat Musa bin Nusair untuk memerintah Maroko setelah ditaklukkan, kemudian menyebrangi selat antara Maroko dan Eropa, dan mendarat di suatu tempat (gunung) yang kemudian dikenal sebagai Jabal Tarig (Gibraltar). Maroko menjadi wilayah penyangga untuk penaklukan Spanyol.
Maroko memang mempunyai peranan besar dalam sejarah Islam, terutama dalam menyebarkan Islam di wilayah Afrika Utara dan sebagai pintu gerbang masuknya Islam ke Spanyol (Andalusia), Eropa. Menara Masjid Kuttubiya di Marrakech diperkirakan di bangun oleh ahli bangunan Sevilla, Guever pada abad ke-12. Ekspansi Islam ke Maroko dimulai ketika negeri itu ditaklukkkan oleh Musa bin Nusair pada al Walid I bin Abdul Malik (705-715), khalifah keenam Dinasti Umayyah.
Segala persiapan ekspansi Islam ke daratan Eropa dilakukan melalui negeri ini. Setelah dinasti Umayyah jatuh ke tangan Dinasti Abbasiyah, Maroko menjadi kekuasaan Bani Abbas. Kemudian di negeri ini muncul dinasti-dinasti kecil. Pada tahun 172 H/789M, Idris I bin Abdullah, salah seorang keturunan Ali RA dapat membentuk pemerintahan Idrisid, yang kemudian bertahan hingga tahun 364 H/974 M. dinasti Syiah yang pertama, sehingga merupakan tantangan bagi Khalifah Harun Ar Rasyid dari Dinasti Abbasiyah di Baghdad yang bercorak Suni
Tahun 177 H. Idris I dibunuh oleh Sulaiman As Sammakh dengan racun. Naiklah Idris II yang dianggap pendiri sebenarnya Dinasti Idrisid. Pada masanya, Dinasti ini banyak mencapai kemajuan, terutama di bidang kebudayaan Islam. Ibu kota yang semula di Walila dipindahkan ke Fez. Tahun 213 H. Idris II meninggal.
Semua penggantinya lemah kecuali Yahya bin Muhammad dan Yahya IV. Di tangan Yahya IV, Dinasti Idrisid mencapai masa keemasannya. Tahun 364 H/974 M, Dinasti Fatimah yang berhaluanSyiah Ismailiyah merebut kekuasaan dari Yahya IV. Keberadaan masyarakat Maroko yang berhaluan Syiah meski bukan Syiah Ismailiyah, memudahkan jalan bagi Abdullah asy-Syi’i untuk mendirikan dinasti tersebut, dinasti yang menisbahkan namanya kepada cucu Nabi SAW.
Dinasti ini berkuasa sampai 1171 M. selama kekuasaannya, terdapat 14 orang imam yang memimpin Negara ini, diantaranya imam pertama Ubaidullah al Mahdi (909-934) dan Imam terakhir al Adid (1160-1171). Selanjutnya Maroko dikuasai oleh Dinasti al Murabitun dengan ibu kotanya Marrakus. Kekuasaannya meliputi seluruh Gurun Sahara, Afrika Barat Laut dan Spanyol. Kendati demikian, dinasti ini tetap mengakui kekhalifahan Abbasiyah di Baghdad dan mendapat pengesahan gelar Amilir al Muslimin.

Jumat, 07 Februari 2014

SEJARAH PERKEMBANGAN ISLAM DI IRAK


1.    Definisi
            Ada beberapa pendapat tentang asal-usul nama Irak; satu di antaranya berasal dari kota Uruk (atau Erech) dari masa Kerajaan Sumer. Pendapat lainnya mengatakan bahwa Irak berasal dari bahasa Arab, yang berarti "tanah sepanjang tepian sungai." Pendapat lainnya mengatakan bahwa Irak adalah sebuah rujukan kepada akar pohon palma, karena jumlahnya banyak sekali di negara itu.
Negara republik Irak (al-Jumhuriyyah al-Irakiyah) dengan ibu kota Baghdad ini berpenduduk pada sensus 1990 dengan populasi penduduk18.317.000 jiwa. Luas wilayahnya 325.052 km2 dengan kepadatan penduduk 42,1/km2, Bahasa resminya adalah bahasa Arab. Terdapat Agama Islam 95,8% (sunni dan syi’ah), Keristen 3,5 %, dan sedikit Yahudi. Mata uangnya adalah dinar. Negara yang berada di bagian barat daya Asia ini, memiliki batas-batas wilayah; di selatan berbatasan dengan Kuwait dan Arab Saudi, di barat dengan Yordania dan Syria, di utara dengan Turki, dan di timur dengan Iran.
2.    Potensi Geografis
Irak berada tepat di bagian timur wilayah Bulan Sabit Subur, yang dulu sering disebut daerah Mesopotamia- kosa kata Yunani yang berarti “lahan di antara dua sungai”;sungai Tigris dan sungai Efrat. Kedua aliran sungai ini sangat mempengarui pola kehidupan dan lingkungan penduduk Irak dari masa ke masa.
Karena posisinya yang terletak antara jazirah Arabia Utara dan jajaran gunung Turki serta Iran di sebelah Barat Daya, daerah ini membentuk lintasan tanah rendah antara Syria dan teluk Persia.
Di bawah Dinasti Sassanid Persia, ada wilayah yang dinamai "Erak Arabi" yang merujuk ke bagian dari wilayah barat daya Kekaisaran Persia, yang kini merupakan bagian dari Irak selatan. Al-Iraq adalah nama yang digunakan oleh orang-orang Arab sendiri untuk daerah ini sejak abad ke-6.
3.    Sejarah Pemerintahan
Dua kemajuan besar dalam evolusi sejarah peradaban manusia tampaknya telah dipraktikkan sejak dahulu oleh penduduk Irak. Pertanian dimulai sejak tahun 6.500 SM di kaki bukit pegunungan Irak Utara, sedangkan pengembangan cara menulis telah dimulai oleh bangsa Sumeria.
Banyak dari sumbangan Irak kuno dalam sejarah dan kebudayaan selama zaman Sumeria (4000-2500SM).Termasuk bangsa Sumeria telah mengembangkan penggunaan roda, teknik pandai besi, dan arsitektur candi monumental seperti yang terlihat pada Zigurat  (candi Mesopotamia) yang terkenal itu.
Irak adalah daerah pertama tempat didirikannya sebuah kekaisaran, yaitu selama pemerintahan bangsa Akkaida di ikuti oleh kekaisaran Babilonia, yang berjaya untuk kedua kalinya di bawah kaisar Nebuchadnezzar yang perkasa. Selama kekuasaan Babilonia kedua ini, dibangunlah taman bergantung, yang sekarang maduk sebagai salah satu dari tujuh keajaiban Dunia.
Bangsa Persia mengalahkan Irak pada tahun 539-538SM dan menjadikannya sebagai sebuah provinsi kekaisaran Achaemenid sampai akhirnya mereka ditaklukkan oleh Iskandar yang agung pada tahun 334-327 SM. Berbagai kekaisaran, termasuk Romawi juga ikut memperebutkan wilayah itu, bahkan sampai kekaisaran Sassania. Persia mampu menaklukkannya pada abad ke-3 M. Sejak kebangkitan bangsa Arab oleh dorongan Agama Islam, maka Irak mampu ditaklukkannya pada tahun 637 M masa pemerintahan Umar ibn Khattab sebagai khalifah ar- Rasyiddin ra, pengganti Abu bakar ash-shiddiq ra.yang kemudian dijadikan sebagai basis dari hari ke hari sebagai penyebaran Islam ke Iran dan Asia Tengah. Selama pemerintahan Abbasiyah (750-1258 M) Irak dan ibukotanya, Baghdad, menjadi pusat “Zaman Keemasan” Islam dan bagsa Arab. Kesusastraan, sains, perdagangan, dan perekonomian berkembang pesat. Irak mengalami badai yang dahsyat pada tahun 1258 ketika negri itu ditaklukkan dan dijarah oleh Hulagu, seorang jendral atau khan Mongolia. Hulagu sebagai penakluk bangsa lain, dan Timur Lenk yang sekali lagi menghancurkan Baghdad pada tahun 1401 M, adlah dua nama yang paling terkutuk dalam sejarah Irak. Setelah masa terebut Irak menjadi bagian dari sejarah gelap dan di perintah oleh khan-khan Mongolia (Ilekkhan) sekalipun mereka pada akhirnya menjadi muslim.
4.    Gerakan Keagamaan
Menurut kebanyakan sumber-sumber barat, mayoritas bangsa Irak adalah orang Arab Muslim Syi'ah (sekitar 60%), dan Sunni yang mewakili sekitar 40% dari seluruh populasi yang terdiri dari suku Arab, Kurdi dan Turkmen. Orang-orang Sunni menyangkal keras angka-angka ini, termasuk seorang bekas duta besar Irak, yang mengacu ke sumber-sumber Amerika [3]. Mereka mengklaim bahwa banyak laporan atau sumber hanya mencantumkan Sunni Arab hanya sebagai 'Sunni', dan tidak memperhitungkan orang-orang Sunni Kurdi dan Sunni Turkmen. Sebagian berpendapat bahwa Sensus Irak 2003 memperlihatkan bahwa orang-orang Sunni sedikit lebih banyak[4]. Etnis Assyria (kebanyakan daripadanya adalah pemeluk Gereja Katolik Khaldea dan Gereja Assyria di Timur) mewakili sebagian terbesar penduduk Kristen Irak yang cukup besar, bersama-sama dengan orang Armenia. Pemeluk Bahá'í, Mandeanisme, Shabak, dan Yezidi juga ada. Kebanyakan orang Kurdi adalah pemeluk Muslim Sunni, meskipun kaum Kurdi Faili (Feyli) umumnya adalah Syi'ah.
Kependudukan Irak, terpecah dalam hal persoalan ideologi agama. Meskipun lebih dari 95% rakyatnya beragama Islam, mereka terbagi menjadi dua kelompok besar yakni Sunni dan Syiah. Perpecahan ini menjadi penting karena merupakan faktor utama terjadinya perang antara Irak dan Iran yang berlarut-larut sejak tahun1980.
Perpecahan antara kedua sekte itu dimulai setelah wafatnya Nabi Muhammad SAW pada tahun 632 M, karena adanya perbedaan pendapat tentang siapa yang dianggap ahli waris yang sah untuk menggantikan Nabi SAW dalam menangani kepemimpinan umat Islam. Orang-orang syiah mengklaim bahwa satu-satunya yang sah sebagai pengganti Nabi SAW adalah sayyidina Ali bin Abi Thalib. Mereka tidak mengakui para khalifah al-Rasyidin (Abu Bakar, Umar bin Khatab, Utsman bin Affan) sebelumnya. Akan teapi, selama berabad-abad kaum sunni berhasil dalam memenangkan calon-calon mereka untuk terpilih sebagai khalifah atau pemangku tugas kenabian Muhammad SAW.di dunia politik khususnya. Karena kaum syiah jarang memegang kekuasaan politik, maka sistem keimanan mereka pun telah menjadi bagian dari gerakan politik yang secara tidak langsung memprotes sunni.
Kelompok selanjutnya, yaitu kaum Kurdi, ideologi mereka termasuk Islam sunni. Karena adanya konflik antara Arab sunni dan Arab syi’ah, maka pemerintah Irak (yang di kuasai oleh kaum sunni) harus terus waspada terhadap kemungkinan terjadinya persekutuan antara kaum Kurdi & Aab Syi’ah ini. Terbentuknya persekutuan seperti itu menjadi semakin mungkin, terutama ketika perang pecah antara Irak & Iran pada tahun 1980. Irak juga memiliki warga kristen, yang mencakup 3% dari jumlah penduduk, dan juga kelompok etnik berbahasa turki, yang dikenal sebagai suku turkoman dengan ideologi sunni.Mereka mecakup 2-3% dari jumlah penduduk dan menempati wilayah-wilayah strategis terutama di ladang-ladang minyak utara di sekitar Kirkuk dan Ardabil.
Di wilayah selatan terdapat sejumlah penduduk sampai 2% yang bertutur kata dalam bahasa persia.Sejumlah besar dari kelompok Syi’ah ini telah diusir dari Irak setelah tahun 1980-an. Banyak terdapat tempat-tempat suci agama kaum Syi’ah berada di kota-kota Irak, seperti Karbala, Al-Najar, dan Kazimiyah yang selalu menarik sejumlah besar peziarah Iran.
Kemudian, aliran Irak (Kufah dan Bashrah). Aliran ini adalah aliran yang lebih luas di banding yang lainnya, karena memperhatikan arus sejarah sebelum Islam dan masa Islam sekaligus, dan sangat memperhatikan sejarah para khalifah. Dalam karya-karya sejarawan aliran ini, sejarah Irak biasanya diuraikan lebih terperinci dan panjang, sedangkan yang berkenaan dengan kota-kota lain hanya sepintas saja.
Kelahiran aliran Irak ini tidak dapat dipisahkan dari perkembagan budaya dan peradaban Arab. Perkembangan kebudayaan bangsa Arab itu sendiri tidak dapat dipisahkan dari aspek-aspek politik, sosial, dan budaya Islam yang tumbuh di kota-kota dan komunitas-komunitas baru.
Setelah umat Islam melakukan ekspansi dengan berhasil pada masa ‘Umar ibn Khatthab, orang-orang Arab muslim itu mendirikan beberapa kota kota baru di berbagai daerah yang mereka taklukkan, di antaranya adalah Kufah dan Bashrah di Irak. Mereka pindah ke Kufah dan Bashrah dengan membawa adat istiadat dan tingkah laku Arab. Sebagaimana di Jazirah Arab, mereka di dua kota ini kembali hidup mengelompok berdasarkan kabilah dan klan. Kabilah-kabilah dan klan-klan yang berasal dari Arab Selatan (Yaman) mengambil sisi kota tertentu, dan kabilah-kabilah dan klan-klan yang berasal dari Arab Utara (Hijaz) mengambil sisi kota yang lainnya.
Sebagaimana di Jazirah Arab masa Jahiliyah, di dua kota ini, mereka juga mendirikan pasar-pasar dan mengadakan gelar puisi (Sya’ir), dimana mereka dapat bersuka ria, berdiskusi, dan membangga-banggakan kabilah atau klan mereka.
Langkah pertama yang sangat menentukan perkembangan penulisan sejarah di Irak yang di lakukan oleh bangsa Arab adalah pembukuan tradisi lisan. Hal itu pertama kali dilakukan oleh ‘Ubaidillah ibn Abi – rafi’. Sekretaris ‘Ali ibn Abi Thalib ketika menjalankan ke khalifahannya di Kufah. Di samping itu Ubaidullah telah menulis buku berjudul Qadhaya Amir al-Mu’minin ‘Alayh al-Salam (perkara-perkara pengadilan Amirul mukminin [‘Ali ibn Abi Thalib]), dan Tasmiyah man Syahad Ma’a Amir al-Mu’minin fi Hurub al-Jamal wa Shiffin wa al-Nahrawan min al-Shahabah Radhia Allah ‘Anhum (Nama-nama para sahabat r.a. yang bersama Amir al-Mu’minin [‘Ali ibn Abi Thalib] ikut dalam perang-perang Jamal, shiffin, dan Nahrawan). Oleh karena itu, dia dipandang sebagai sejarawan pertama dalam aliran Irak ini. Dalam penulisan sejarah ini, dia diikuti oleh ziyad ibn Abih yang menulis buku dengan judul Matsalib al-‘Arab.
5.    Tahap Masuknya Islam ke Irak
Di awal abad ke-7, Islam menyebar ke daerah yang sekarang bernama Irak. Sepupu sekaligus menantu Nabi Muhammad memindahkan ibukota di Kufah "fi al-Iraq" di mana ia menjadi Khulafaur Rasyidin yang ke-4. Bani Umayyah yang berkuasa dari Damaskus di abad ke-7 menguasai Provinsi Irak.
Irak (masuk)/ ditaklukkan oleh tentara Arab Islam pada tahun 633-637 dengan membawa bahasa Arab dan ajaran Islam. Penaklukan itu berlangsung dalam tiga tahap berikut ini.
  1. Tahap pertama
Tahap ini terjadi pada masa Khalifah Abu Bakar as-Siddiq di bawah pimpinan Musanna bin Harisah yang menaklukkan bagian barat Sungai Eufrat. Selanjutnya, Abu bakar as-Siddiq mengirim pasukan yang lebih besar di bawah pimpnan Khalid bin Walid. Ia berhasil meguasai Kota Hirah dan al-Ubullah.
  1. Tahap kedua
Tahap ini terjadi pada masa Khalifah Umar bin Khattab. Beliau mengirim pasukannya ke utara Bagdad dengan melibatkan banyak panglima terbaik Islam, antara lain Musanna bin Harisah, Abu Ubaidah bin Umar as-Saqafi, jarir bin Abdullah, dan Sa’ad bin Waqas. Tahap kedua ini berlangsung beberapa tahun berhasil menaklukkan seluruh daerah as-Sawad yang sekarang disebut basrah.

  1. Tahap ketiga
Tahap ketiga ini juga terjadi pada masa Khalifah Umar bin Khattab. Pasukan Islam dipimpin oleh Iyad bin Ganam. Serangan diarahkan ke daerah yang dikuasai bangsa Romawi dan mampu merebut beberapa kota penting.
Penyebaran agama islam dipusatkan di kota kembar Basrah Kufah yang dibangun pada masa Khalifah Umar bin Khottab. Khlaifah Umar bin Khattab mengirim Abu Musa al-Asy’ari ke Basrah dan Abdullah bin mas’ud ke Kufah. Ulama-ulama dari Madinah juga berdatangan ke kota ini.
Pada masa bani Abbasiyah, pusat pemerintahan Islam berada di Bagdad, yaitu sejak tahun 750-1258. Kota ini dibangun oleh Abu Ja’far al-Mansur. Kerajaan bani Abbasiyah berakhir setelah Bagdad dihancurkan Hulagu Khan. Pada tahun 1258. pada tahun 1401, Irak dikuasai Timur Lenk. Pada tahun 1508, Irak dikuasai oleh Kerajaan Safawi Persia di bawah pimpinan Isma’il Safawi dan pada tahun 1683 dikuasai oleh Kerajaan Turki Usmani.
Pada perang Dunia I, Inggris merebut Irak dari Kerajaan Turki Usmani. Pada tahun 1920, Liga bangsa-Bangsa memberi mandat kepada Inggris atas Irak dan pada tahun 1921 Inggris membantu para pemimpin Irak untuk membentuk pemerintahan.
Pada tahun 1958, kelompok militer mengambil alih kekuasaan dan menyatakan Irak sebagai negara Republik. Sejak 1979, Saddam Husain, seorang pimpinan Partai Ba’at menjadi presiden Irak. Dalam perkembangan selanjtunya, Saddam Hussein membawa Irak terlibat dalam tiga perang besar. Tiga perang tersebut adalah melawan Iran pada tahun 1980-1990 karena masalah perbatasan, melawan Tentara Sekutu di bawah pimpinan Amerika Serikat pada tahun 1992, karena invasinya ke Kuwait. Perang yang terakhir adalah melawan Amerika Serikat dan Iggris yang terjadi pada tahun 2003 yang lalu. Perang ini terjadi karena kepemilikan senjata pemusnah masal Irak dan mengakhiri kepemimpinan Saddam Hussein.
Penduduk irak terdiri dari berbagai macam suku yang sulit bersatu. Oleh karena itu, sampai saat ini mereka masih mengalami permasalahn dalam pembaharuan mereka. Wilayah pegunungan di sebelah utara dihuni suku Kurdi dan minoritas Yazidi, Kristen, dan Terkmen. Wilayah Diyala, di timur Bagdad, dihuni para petani. Wilayah Jazira, diutara Bagdad, dihuni kaum Sunni Badui. Sedangkan wilayah gurun ditengah dan selatan Irak dihuni penganut Syiah. Secara garis besar, diantara berbagai kelompok di atas, ada 3 kelompok yang perananya sangatkuat. Tiga kelompok tersebut adalah Syiah di selatan, Sunni di tangah (bagdad), dan Kurdi di utara.hal ini mengakibatkan sulitnya pembentukan negara dan bangsa Irak. Berdasarkan data pada tahun 2001, jumlah penduduk Irak mencapai 23. 750.00 jiwa.
 

Blogger news

Blogroll

About